Badan saya mulai panas euy. Kurang gerak atau terlalu banyak kena angin sepertinya. Daripada kegiatan rutin ( menunggu download ) saya berakhir dengan bengong + masuk angin, ada baiknya saya minum Tolak Angin, dan mulai menulis ( lagi ).
Judul blog ini mungkin kurang nyambung dengan apa yang akan tulis, karena memang strategi pemasarannya begitu * merchant mode: on*. Gak lah, bercanda. Biar gak terlalu membosankan saja sebenarnya, apalah arti sebuah judul. Guru SMP saya pernah bilang " Kalau mau mengarang, ya tulis isinya dulu, judulnya belakangan. Mau beranak kan juga gitu, brojol dulu, baru dinamain ".
Ada benarnya juga saya rasa. Ketika SMA saya mulai berpatokan pada judul dan mulai gampang buntu dalam mengarang, padahal kalau tidak ada judulnya a.k.a belum ada judul, saya bisa menulis berlembar-lembar. Walau tak selalu menurut pakem sang karangan sendiri. Bisa nyasar bahasan didalam-nya. Jauh pula.
Oke, ini topik dari tulisan saya, piracy, atau pembajakan. Yang disini terutama adalah tentang musik.
Entah apa pertimbangannya ( hak kreatif, profit, atau harga diri mungkin? ), pembajakan masih abu-abu di " industri " ( hate that word ) musik tanah air. Ada yang mengiyakan, ada pula yang protes, beberapa hanya menunjukkan senyum simpul saja. Sebagian menganggap file-sharing adalah pembajakan. Sebagian malahan support. Nah, saya menemukan artikel, yang agaknya menentang pembajakan, bukan file-sharing, karena pembajak sudah pasti mengincar profit, sedangkan file-sharing bisa jadi hanya ajang publikasi gratisan, mengiklankan karya sang musisi tanpa promosi yang jor-joran, agenda yang sudah pasti ujung-ujungnya duit. When it comes to good music, we’ll buy the CD if we already have the money, rite?
Ini artikel-nya.
" Yovie Widianto Siap Buat Software Antipembajakan
Kamis, 10 Juli 2008 - 21:05 wib
Arief Pratama - Okezone
BANDUNG - Yovie Widianto pentolan grop band YovieNuno
dan Kahitna, berencana membuat software antipembajakan baik dalam
bentuk kaset maupun CD, DVD serta pita suara lainnya.
Hal
tersebut diungkapkan Yovie ketika ditemui okezone di Bandung, Kamis
(10/7/2008). "Kegiatan di luar garapan musik sangat padat, meski tetap
saja pekerjaan saya pasti ada bau-bau musiknya," ungkap Yovie.
Selain
sebagai pencetak beberapa artis muda berbakat di kancah musik
Indonesia, Yovie sedang menggagas untuk membuat software antipembajakan
kaset. "Saya prihatin atas banyaknya pembajakan kaset, karena hal
tersebut merupakan pelanggaran atas hak cipta," tuturnya.
Dalam melaksanakan program tersebut, Yovie banyak berhubungan dengan ahli IT dan digital dari para alumnus ITB.
Proyek
antipembajakan yang digagasnya yakni penggunaan CD, DVD, dan pita kaset
akan diberi DNA. "DNA tersebut bisa melacak keberaadaan kaset yang baru
dirilis, terus marak di para pedagang bajakan, maka akan kelihatan
awalnya dari mana," terangnya.
Untuk itu, pihaknya akan bekerja sama dengan negara Jerman terkait hak paten DNA dalam kepingan CD, DVD, dan pita kaset. (mbs) "
Quite interesting. Namun mahal sepertinya untuk direalisasikan, menyangkut hi-tech
seperti ini, saya skeptis pelaksanaannya dilapangan akan semulus konsepnya. But, we’ll see.
**
Di artikel lain, sang penulis menunjukkan sikap " semua senang, semua menang ". Alias pro-pembajakan, tapi tunggu dulu. Bukan yang merugikan sepihak seperti yang kita tau selama ini. Tapi mungkin jalan tengah untuk ketiga pihak, pihak musisi ( menyangkut label, dan segala tetekbengeknya), pihak distributor ( yang dalam kategori ini adalah pembajak ), dan pihak konsumen. Untuk lebih jelasnya, klik link ini; kabardariopa.blogspot.com/2008/04/bersekutu-dengan-pembajak-makang-rw.html.
Setelah saya cerna, artikel ini ada benarnya, mungkin terlalu terburu-buru kalau dibilang ini adalah blue print dari industri musik Indonesia yang akan datang. Tapi, jika cara ini berhasil diimplementasikan, bukan tidak mungkin akan ada babak baru di ranah industri ini.
Saya sebagai konsumen, merasa bahwa barang bajakan lebih mudah diakses dan punya harga yang lebih " bersahabat " ( kisaran Rp. 5.000,00. sampai RP.8000,00. ). Dan itulah yang membuat pembajakan yang masih berformat CD ( mp3 bajakan, CD album bajakan ) dekat dengan anak-anak, remaja, atau bahkan yang sudah berpenghasilan tetap sekalipun. Aksesibilitas, dan harga. Dua hal ini yang membuat flow piracy di Indonesia tetap mengalir, bahkan almost everypiratedshit ada di Negeri ini. Dari mulai CD musik hingga CD software, bokep pun ada bajakannya, what a land, eh? Hahahaha.
Namun para pelaku industri ini tak kehilangan akal. Free download, atau dalam kata lain, meng-gratiskan album-album mereka, sekarang jadi ajang pamer kualitas, sekaligus promosi. Logikanya memang " dengan pengeluaran sekecil-kecilnya, dapat meraup untung sebesar-besarnya ", besar disini relatif, it depends.
Dengan tidak membuat album mereka menjadi CD, musisi bisa menghemat uang, dan menghindari segala tetekbengek dengan label, termasuk memotong uang promo. Wong tinggal pajang saja link download-nya di MySpace.
Sebutlah Koil, Naif, Killed By Butterfly, para musisi ini sudah memulai pergerakan free-album. Bahkan Naif merilis 2 album secara cuma-cuma, melalui download, maupun CD ( dengan pembelian majalah RollingStone ). Koil juga meng-gratiskan 2 album masterpiece-nya, Megaloblast dan Blacklight Shines On, klik saja koilkarat.multiply.com. Dan walaupun cuma beberapa hari, KBB juge sempat membuat album Sanity/Insanity menjadi free download.
Namun, para musisi ini sudah mempunya fanbase yang kuat. Yang akan membeli album mereka dalam format CD, atau dalam versi Naif, flashdisk. Karena mengejar kepuasan membeli CD, dan menikmati artwork dari sang album, saya akui hal itu memang benar adanya. Musik bagus akan tetap dicari walau out of stock sekalipun, sedangkan musik mediocre walaupun gratis juga rasanya malas mendengarkannya. Make a good music first, then talk about piracy. Karena musik bagus akan melahirkan dedikasi, dan dedikasi akan melahirkan concern bahwa sang musisi juga butuh uang untuk hidup, not to be that Paris Hilton-filthy-stinkin’-rich, at least they can feed their family, eventually, dedicated fans is the motor of the artist career.
Di Bumi ini hanya ada 2 jenis musik; The good one and the bad one. Pada akhirnya, pendengar akan memilih musik bagus, apapun genre-nya. Jika suatu negara dapat menumbuhkan kultur open-minded, maka hal-hal seperti ini mungkin tak sesulit ini ditanggulangi.
Akhir kata, saya mengutip dari artikel Andre J.O.Sumual di RollingStone.
" Bersekutulah dengan pembajak!! Berdamailah dengan pembajak. Rangku
mereka sebagai kawan. Ajaklah mereka berbagi bisnis dan berbagi
keuntungan. Karena keuntungan itu jelas sudah didepan mata. Melihat
uraian tentang kelebihan yang dipunya retail pembajak, mulai dari pasar
yang luas, insting yang bagus, promosi yang berjalan sendiri dan harga
yang berdamai, serta jaringan yang luas dan kuat.
Hukum niscaya
akan melindungi kalian, seperti hukum itu menutup mata dengan sepak
terjang pembajak selama ini (termasuk terhadap para pmbajak berbulu
domba). Dari pada sibuk berteriak, sibuk berpidato, mendingan cari tau
siapa bos pembajak itu, ajaklah berteman. Dan ajaklah berbisnis.
Bersekutulah dengan pembajak!!! ".
Sekian.